Referensi & Edukasi IVF | Sahabat Bayi Tabung Indonesia

OPU (Oocyte Pick-Up)

Prosedur Pengambilan Sel Telur yang Menjadi Jantung dari Setiap Siklus IVF — Aman, Cepat, dan Dilakukan di Bawah Sedasi Ringan

15–30
Menit Durasi Prosedur
36jam
Setelah Suntikan Trigger
1–2
Hari Pemulihan di Rumah
80%+
Tingkat Maturasi Sel Telur

OPU (Oocyte Pick-Up) : Prosedur Pengambilan Sel Telur dalam Program IVF

Apa itu OPU?

Setelah 10–14 hari stimulasi ovarium dengan suntikan hormon, folikel-folikel di ovarium telah tumbuh dan matang. Di dalam setiap folikel tersebut tersimpan satu sel telur yang siap untuk dibuahi. OPU (Oocyte Pick-Up), juga disebut Ovum Pick-Up atau egg retrieval, adalah prosedur medis untuk mengambil sel telur-sel telur tersebut secara langsung dari folikelnya.

OPU adalah titik puncak dari fase stimulasi ovarium dan menjadi jantung dari seluruh siklus IVF — tanpa sel telur yang berhasil dipanen, tidak ada fertilisasi, tidak ada embrio, dan tidak ada transfer. Kualitas dan jumlah sel telur yang dipanen pada OPU sangat menentukan peluang keberhasilan keseluruhan program.

Prosedur ini dilakukan di ruang operasi minor klinik fertilitas menggunakan panduan USG transvaginal, di bawah sedasi intravena sehingga pasien tidak merasakan sakit. Seluruh prosedur berlangsung sekitar 15–30 menit, dan pasien dapat pulang beberapa jam setelahnya.

Posisi OPU dalam Siklus IVF: Stimulasi Ovarium (10–14 hari) → Suntikan Trigger (H-36 jam) → OPU → Fertilisasi di Laboratorium (ICSI) → Kultur Embrio (5–6 hari) → Biopsi PGTA (opsional) → Frozen Embryo Transfer (FET).

Persiapan yang Perlu Dilakukan Pasien

Keberhasilan OPU tidak hanya bergantung pada prosedur di klinik — persiapan yang dilakukan pasien dalam 36 jam sebelumnya sama pentingnya. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:

Suntikan Trigger — Ketepatan Waktu adalah Segalanya

Suntikan trigger (hCG atau agonis GnRH) diberikan tepat 34–36 jam sebelum OPU yang telah dijadwalkan. Ini bukan perkiraan — ini adalah instruksi presisi. Dokter akan memberikan jam pasti untuk suntikan trigger, misalnya: "OPU Senin pukul 09.00 → trigger Sabtu pukul 23.00." Menyuntik terlalu awal atau terlambat lebih dari 1–2 jam dapat berdampak serius pada pematangan sel telur atau risiko ovulasi spontan.

Puasa Sebelum Prosedur

Karena OPU dilakukan di bawah sedasi intravena, pasien diwajibkan puasa total — tidak makan dan tidak minum apapun (termasuk air putih) — selama minimal 6–8 jam sebelum jadwal OPU. Instruksi puasa spesifik akan diberikan oleh klinik dan harus diikuti dengan ketat untuk keamanan anestesi.

Pendamping Wajib

Pasien tidak boleh mengemudi sendiri setelah OPU karena efek sedasi. Wajib membawa pendamping (pasangan, anggota keluarga, atau teman terpercaya) yang bisa menemani dan mengantar pulang. Klinik umumnya tidak mengizinkan pasien pulang seniri setelah prosedur.

Apa yang Perlu Dibawa & Dikenakan

  • Pakaian yang longgar dan nyaman — hindari pakaian ketat di area perut
  • Tidak memakai perhiasan, nail polish, atau lensa kontak
  • Dokumen identitas dan kartu asuransi bila berlaku
  • Obat-obatan rutin yang sudah disetujui dokter untuk tetap diminum
  • Pembalut — spotting ringan pasca-OPU adalah normal

Hal yang Harus Dihindari

  • Tidak mengonsumsi aspirin, ibuprofen, atau pengencer darah lainnya (kecuali atas instruksi dokter)
  • Tidak berhubungan seksual setelah suntikan trigger hingga selesai pemulihan OPU
  • Tidak melakukan aktivitas fisik berat sejak 48 jam sebelum OPU

Bagaimana Prosedur OPU Dilakukan?

OPU adalah prosedur yang terstruktur dan berlangsung cepat. Berikut urutan lengkap dari pasien tiba di klinik hingga sel telur berada di laboratorium:

1. Registrasi & Persiapan di Ruang Perawatan

Pasien tiba di klinik 30–60 menit sebelum jadwal. Perawat akan memasang infus intravena (IV line) di lengan, memeriksa tanda-tanda vital, dan mengonfirmasi identitas serta instruksi yang telah diberikan dokter. Pasien berganti pakaian operasi dan berbaring di ranjang prosedur dengan posisi litotomi (kaki di penyangga).

2. Pemberian Sedasi

Dokter anestesi atau spesialis fertilitas terlatih memberikan obat sedasi melalui jalur IV. Dalam hitungan menit, pasien memasuki kondisi sedasi dalam — setengah tidur, tidak merasakan nyeri, namun masih bernapas secara mandiri tanpa bantuan alat. Ini berbeda dari anestesi umum penuh; pasien dapat dibangunkan kapan saja bila diperlukan.

3. Aspirasi Folikel dengan Panduan USG

Dokter memasukkan probe USG transvaginal yang dilengkapi panduan jarum ke dalam vagina. Pada layar USG, dokter dapat melihat secara real-time posisi folikel-folikel di ovarium. Jarum tipis panjang kemudian menembus dinding vagina dan masuk langsung ke folikel yang dituju, mengaspirasi cairan folikel beserta sel telur di dalamnya ke dalam tabung penampung. Setiap folikel diaspirasi satu per satu — proses ini diulang untuk semua folikel yang terlihat di kedua ovarium.

4. Identifikasi Sel Telur oleh Embriologis

Tabung berisi cairan folikel langsung diteruskan ke laboratorium yang bersebelahan dengan ruang prosedur. Embriologis segera memeriksa cairan di bawah mikroskop untuk mengidentifikasi dan memisahkan sel telur. Hasilnya dikomunikasikan ke dokter dan pasien: "Kami berhasil mendapatkan X sel telur."

5. Pemulihan Pasca-Prosedur

Setelah aspirasi selesai (15–30 menit), pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Selama 1–3 jam berikutnya, efek sedasi berangsur hilang di bawah pengawasan perawat. Dokter akan menjelaskan jumlah sel telur yang berhasil dipanen dan langkah selanjutnya sebelum pasien diizinkan pulang bersama pendampingnya.


Dari Sel Telur yang Dipanen ke Embrio

Jumlah sel telur yang dipanen hanyalah angka awal — tidak semua sel telur yang diaspirasi akan menjadi embrio. Ada beberapa "penyaringan alami" yang terjadi di laboratorium setelah OPU:

Tingkat Kematangan Sel Telur

Embriologis menilai kematangan setiap sel telur di bawah mikroskop. Hanya sel telur yang berada pada stadium MII (Metaphase II) yang siap dibuahi dengan ICSI. Sel telur GV (Germinal Vesicle) dan MI (Metaphase I) belum matang dan umumnya tidak langsung dapat dibuahi. Rata-rata 70–85% sel telur yang dipanen berada pada stadium MII.

Tingkat Fertilisasi

Dari sel telur MII yang difertilisasi dengan ICSI, rata-rata 70–80% berhasil difertilisasi normal — ditandai dengan terbentuknya dua pronuklei (2PN) yang terlihat pada pemeriksaan keesokan harinya. Fertilisasi yang tidak normal (0PN, 1PN, atau 3PN) tidak dapat digunakan lebih lanjut.

Perkembangan ke Blastosit

Dari embrio yang berhasil difertilisasi, rata-rata 40–60% akan berkembang mencapai stadium blastosit pada hari ke-5 atau ke-6 — stadium optimal untuk biopsi PGTA dan/atau transfer. Embrio yang berhenti berkembang di tengah jalan tidak ditransfer.

Tahap Contoh Angka (dari 10 sel telur dipanen) Rata-rata Konversi
Sel telur dipanen (OPU) 10
Sel telur matang (MII) ~8 ~75–85%
Berhasil difertilisasi (2PN) ~6 ~70–80% dari MII
Berkembang menjadi blastosit ~3–4 ~40–60% dari 2PN
Lulus PGTA (euploid) — opsional ~1–2 (bergantung usia ibu) ~30–60% dari blastosit
Mengapa angka ini penting? Tabel di atas menjelaskan mengapa dokter menargetkan lebih dari sekadar 1–2 sel telur. Setiap tahap memiliki angka "kerontokan" alami yang tidak bisa dicegah — semakin banyak sel telur berkualitas yang dipanen saat OPU, semakin besar peluang mendapatkan setidaknya satu embrio euploid yang siap ditransfer.

Apa yang Dirasakan Setelah OPU?

OPU adalah prosedur invasif minimal, namun tubuh tetap memerlukan waktu untuk pulih — terutama ovarium yang baru saja diaspirasi dari beberapa titik. Berikut yang dapat diharapkan pasien setelah prosedur:

Efek Samping yang Normal

  • <strong>Kram perut bawah</strong> ringan hingga sedang — mirip nyeri menstruasi, umumnya membaik dalam 24–48 jam
  • <strong>Spotting atau perdarahan ringan</strong> per vagina — karena jarum menembus dinding vagina
  • <strong>Perut terasa penuh atau kembung</strong> — ovarium masih membesar setelah stimulasi
  • <strong>Rasa mual ringan</strong> — efek sisa sedasi, biasanya hilang dalam beberapa jam
  • <strong>Kelelahan dan kantuk</strong> — normal setelah sedasi, membaik setelah tidur malam

Panduan Pemulihan di Rumah

  • Istirahat penuh pada hari OPU — hindari aktivitas apapun selain duduk dan berbaring
  • Konsumsi analgesik ringan (parasetamol) sesuai instruksi dokter untuk mengatasi nyeri
  • Minum banyak cairan — terutama minuman berprotein atau berisi elektrolit untuk membantu mencegah OHSS ringan
  • Mulai atau lanjutkan supositoria progesteron vaginal sesuai instruksi — ini penting untuk persiapan rahim
  • Hindari berendam di bak mandi, kolam renang, atau jacuzzi selama beberapa hari
  • Boleh mandi shower normal

Kapan Harus Menghubungi Klinik?

Segera hubungi klinik bila Anda mengalami salah satu dari gejala berikut setelah OPU:

  • Perdarahan banyak per vagina (lebih dari menstruasi normal)
  • Nyeri perut yang semakin memburuk atau tidak tertahankan
  • Demam di atas 38°C
  • Perut terasa sangat kencang, keras, atau membesar secara signifikan
  • Sesak napas atau nyeri dada
  • Buang air kecil sangat sedikit atau tidak sama sekali dalam 12 jam
Gejala di atas bisa menjadi tanda OHSS atau komplikasi lain yang memerlukan penanganan segera. Jangan menunggu jadwal kontrol berikutnya — hubungi dokter atau klinik langsung.

Risiko dan Komplikasi OPU

OPU adalah prosedur yang secara umum sangat aman dengan tingkat komplikasi serius yang sangat rendah di klinik berpengalaman. Namun seperti semua prosedur invasif, risiko tetap ada dan penting untuk dipahami:

Perdarahan

Komplikasi paling umum, namun perdarahan berat yang memerlukan intervensi terjadi pada kurang dari 0,1% kasus. Klinik menggunakan Doppler color flow pada USG untuk menghindari pembuluh darah besar selama aspirasi.

Infeksi (Pelvic Inflammatory Disease)

Risiko infeksi akibat kontaminasi selama prosedur sangat rendah, sekitar 0,1–0,6%. Sebagian klinik memberikan antibiotik profilaksis sebelum atau segera setelah OPU sebagai langkah pencegahan, terutama pada pasien dengan riwayat endometriosis atau hidrosalpinks.

Cedera Organ Sekitar

Dalam kasus yang sangat jarang, jarum aspirasi dapat mengenai organ di sekitar ovarium seperti usus atau kandung kemih. Risiko ini sangat kecil (<0,01%) dengan panduan USG real-time dan operator yang berpengalaman.

OHSS (Ovarian Hyperstimulation Syndrome)

Bukan komplikasi langsung dari prosedur OPU, namun dapat berkembang atau memburuk dalam beberapa hari setelah OPU — terutama bila trigger menggunakan hCG. Pasien dengan respons ovarium berlebihan akan dipantau ketat setelah OPU.

Empty Follicle Syndrome (EFS)

Kondisi di mana folikel yang terlihat di USG tidak mengandung sel telur saat diaspirasi. Terjadi pada 0,5–7% siklus. Penyebab paling umum adalah masalah pada suntikan trigger (dosis kurang, administrasi tidak benar, atau defisiensi reseptor hCG yang sangat jarang). Dokter dapat mencoba aspirasi ulang atau memberikan hCG dosis tambahan dalam beberapa kasus.

Komplikasi Frekuensi Penanganan
Perdarahan ringan (spotting) Sangat umum (~100%) Normal, hilang sendiri
Perdarahan berat <0,1% Observasi / intervensi medis
Infeksi pelvis 0,1–0,6% Antibiotik
OHSS sedang–berat 1–2% Monitoring / rawat inap
Empty Follicle Syndrome 0,5–7% Re-aspiration / rescue hCG
Cedera organ <0,01% Intervensi bedah (sangat jarang)

Apa yang Terjadi di Laboratorium Setelah OPU?

Sementara pasien berada di ruang pemulihan, pekerjaan di laboratorium embriologi baru saja dimulai. Sel telur yang berhasil dipanen langsung memasuki serangkaian proses kritis:

Hari 0 — Hari OPU: Identifikasi & Denudasi

Embriologis mengidentifikasi sel telur dari cairan folikel, menilai kematangannya, dan melakukan denudasi — mengangkat sel-sel kumulus yang mengelilingi sel telur menggunakan enzim hialuronidase dan pipet halus. Sel telur MII yang telah didenudasi siap untuk ICSI yang dilakukan beberapa jam kemudian pada hari yang sama.

Hari 1 — Konfirmasi Fertilisasi

Sekitar 16–18 jam setelah ICSI, embriologis memeriksa setiap sel telur di bawah mikroskop untuk melihat tanda fertilisasi normal: dua pronuklei (2PN) yang akan bergabung menjadi satu sel embrio. Hasil fertilisasi biasanya dikomunikasikan kepada pasien pada pagi hari.

Hari 2–4 — Pemantauan Perkembangan Embrio

Embrio yang berhasil difertilisasi dikultur dalam inkubator yang dikontrol ketat — suhu, CO₂, dan kadar oksigen dijaga persis menyerupai kondisi tuba falopi. Embriologis (atau sistem time-lapse imaging otomatis) memantau perkembangan setiap embrio setiap harinya.

Hari 5–6 — Blastosit & Keputusan Selanjutnya

Embrio yang berhasil mencapai stadium blastosit pada hari ke-5 atau ke-6 dievaluasi kualitasnya menggunakan sistem grading (misalnya: 4AA, 3AB, 2BB). Embrio berkualitas baik kemudian divitrifikasi (dibekukan) untuk menunggu biopsi PGTA atau langsung masuk dalam antrian Frozen Embryo Transfer (FET).


Yang Sering Ditanyakan

Semua yang perlu Anda ketahui tentang prosedur OPU sebelum menjalaninya

Apakah prosedur OPU terasa sakit?+
OPU dilakukan di bawah sedasi intravena (IV sedation) — pasien dalam kondisi mengantuk mendalam dan tidak merasakan sakit selama prosedur berlangsung. Setelah sedasi habis, sebagian pasien merasakan kram perut bawah ringan hingga sedang yang umumnya dapat diatasi dengan analgesik ringan. Tingkat ketidaknyamanan sangat bervariasi antar individu — banyak pasien melaporkan hanya merasakan sedikit rasa tidak nyaman, mirip nyeri menstruasi.
Berapa lama saya perlu beristirahat setelah OPU?+
Kebanyakan pasien dapat pulang ke rumah 2–4 jam setelah prosedur, setelah efek sedasi benar-benar hilang. Disarankan untuk beristirahat penuh di rumah pada hari OPU dan keesokan harinya. Sebagian besar pasien dapat kembali ke aktivitas ringan dalam 1–2 hari. Hindari mengemudi sendiri pada hari OPU karena efek sedasi. Aktivitas berat, olahraga intens, dan hubungan seksual sebaiknya dihindari hingga dokter memberi izin.
Apa yang terjadi dengan sel telur setelah dipanen dari OPU?+
Segera setelah sel telur diaspirasi dari folikel, embriologis di laboratorium mengidentifikasi dan mengevaluasi setiap sel telur di bawah mikroskop. Sel telur yang matang (MII — Metaphase II) dibuahi pada hari yang sama menggunakan ICSI (sperma disuntikkan langsung ke dalam sel telur). Sel telur yang belum matang (GV atau MI) mungkin dapat dimatangkan secara in vitro (IVM), namun potensinya lebih rendah. Embrio yang terbentuk kemudian dikultur selama 5–6 hari hingga stadium blastosit.
Apakah ada kemungkinan tidak ada sel telur yang berhasil dipanen saat OPU?+
Ya, meski jarang. Kondisi ini disebut Empty Follicle Syndrome (EFS) — folikel terlihat berkembang di USG namun tidak mengandung sel telur saat diaspirasi. EFS terjadi pada sekitar 0,5–7% siklus, lebih sering pada pasien poor responder atau jika terdapat masalah teknis pada suntikan trigger (misalnya dosis tidak cukup atau waktu yang tidak tepat). Dokter dapat mencoba re-aspiration atau pemberian hCG dosis tambahan dalam kasus tertentu.
Berapa lama jarak antara suntikan trigger dan jadwal OPU?+
Suntikan trigger diberikan tepat 34–36 jam sebelum OPU yang telah dijadwalkan. Ketepatan waktu ini sangat kritis — jika terlalu awal, pematangan sel telur belum sempurna; jika terlalu lambat, ovulasi spontan bisa terjadi dan sel telur terlepas dari folikel sebelum sempat diaspirasi. Dokter akan memberikan instruksi jam pasti untuk suntikan trigger, misalnya: "OPU Senin pukul 09.00 → trigger Sabtu pukul 23.00."
Bisakah OPU dilakukan tanpa sedasi?+
Secara teknis memungkinkan menggunakan anestesi lokal saja, namun tidak direkomendasikan karena prosedur akan terasa sangat tidak nyaman, terutama jika banyak folikel yang diaspirasi. Standar klinis modern menggunakan sedasi intravena (IV sedation) atau anestesi umum ringan untuk memastikan kenyamanan dan ketenangan pasien, yang juga membantu dokter menjalankan prosedur lebih efisien dan aman.